
PG Ngadiredjo Dilarang Buang Limbah Ke Sungai Brantas
May 22, 2008Pabrik Gula Ngadiredjo di Kabupaten Kediri Jawa Timur dilarang membuang limbahnya ke Daerah Aliran Sungai Berantas. Pembuangan limbah ke sungai selain menimbulkan pencemaran juga menyebabk an terjadinya masalah sosial bagi masyarakat sekitarnya yang memanfaatkan air sungai.
Larangan itu disampaikan Bupati Kediri Sutrisno saat meninjau instalasi pembuangan air limbah di PG Ngadiredjo, Kamis (22/5) pagi. Peninjauan itu dilakukan karena pada t ahun lalu, pembuangan limbah PG Ngadiredjo ke Sungai Berantas menuai protes dari warga sekitar.
PG Ngadiredjo adalah satu dari puluhan bahkan mungkin ratusan pabrik yang membuang limbahnya langsung ke Sungai Brantas. Pembuangan limbah biasanya dilakukan p ada saat musim giling tebu. Pada tahun 2008 ini rencananya musim giling akan dimulai pada tanggal 2 Juni 2008.
“Baguslah kalau sekarang sudah tidak membuang limbah ke Sungai Brantas. Bahkan saya dengar sudah memiliki instalasi pengolahan limbah sendiri, ” ujar Sutrisno.
Administratur PG Ngadiredjo Heru Wientoyo saat menemui Bupati Kediri mengatakan ada tiga jenis limbah yang dihasilkan pada musim giling tebu yakni limbah cair, limbah padat berupa blothong, abu dan ampas serta limbah gas. Besarnya limbah ya ng dihasilkan mencapai 30 persen dari total produksi gula.
Khusus untuk limbah cair, pihaknya sudah menyiapkan lahan seluas 1,5 hektar yang terletak di belakang bangunan pabrik untuk instalasi pengolahan sehingga tidak lagi dibuang ke sungai.
Sedangkan untuk limbah padat berupa blothong dimanfaatkan petani sebagai pupuk kompos. Limbah yang berupa ampas dipakai lagi untuk bahan bakar penggilingan. Sedangkan guna mencegah penyebaran abu, pihak pabrik melakukan peninggian cerobong asap.
PG Ngadiredjo adalah salah satu pabrik gula yang ditunjuk sebagai proyek percontohan revitalisasi industri gula nasional yang melibatkan pihak swasta sebagai investor. Dalam program ini bertindak sebagai investor PT Kencana Gula Manis.
Salah satu target revitalisasi menaikkan kapasitas produksi dari 5.000 TCD (Ton Cane per Day) menjadi 10.000 TCD pada tahun 2013 nanti. Tahun ini kapasitas produksi gula ditarget 5.500 TCD atau naik 200 TCD dibanding tahun lalu. Sedangkan rendemen tebu ditarget 8,2 persen.
Revitalisasi ini dihar apkan tidak hanya dinikmati oleh industri akan tetapi juga petani tebu. Dengan produksi gula yang naik, secara otomatis keuntungan yang mereka peroleh juga lebih tinggi. Hal itu diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani tebu.
Direktur PT Kencana Gula Manis Agus Tjokro Bintoro pada saat penandatangan program revitalisasi bulan April 2008 lalu mengatakan pihaknya telah mengeluarkan dana sebesar 55 juta dollar AS atau sekitar 550 miliar.
Uang itu akan dipakai untuk membiayai perbaikan mesin-mesin pabrik agar produktivitasnya lebih maksimal. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan perbaikan kualitas tanaman tebu yang diproduksi oleh petani. Ada dua proses yang menentukan keberhasilan proyek revitalisasi yakni on farm dan off farm, katanya.